squigly81
02-15-2010, 01:37 PM
Untuk menangkap cahaya, kita memerlukan alat yang tepat. Kita membutuhkan zat yang sensitif terhadap cahaya, yang akan berubah sifat-sifat zatnya ketika cahaya dikenakan ke zat tersebut, DAN yang paling penting, mempertahankan sifat-sifat baru tersebut walaupun kemudian dikenakan cahaya lagi ketika kita menikmati apa yang sudah kita potret. Kita juga membutuhkan alat untuk mengontrol banyaknya cahaya yang akan kita teruskan dan menerangi zat sensitif cahaya. Dalam fotografi, kita memakai shutter speed dan aperture untuk mengontrol banyaknya cahaya tersebut.
Setelah kita mendapatkan 3 alat terpenting dalam fotografi, kita dapat meletakkan alat-alat ini dalam satu Segitiga Fotografi seperti yang dapat kita lihat di gambar di bawah. Untuk melengkapi segitiga kita, kita memerlukan sebuah alat lagi, Light Meter, yang akan kita pakai untuk membantu kita menghitung kombinasi film - shutter speed - aperture untuk bisa membuat "foto dengan cahaya seimbang" (well balanced light photo - selanjutnya saya akan pakai istilah well balance untuk menjelaskan foto yang memiliki cahaya yang cukup). Alat ini akan "menghubungkan" ketiga alat lainnya yang telah kita bicarakan sebelumnya. Light meter adalah sebuah alat yang kita pakai untuk menghitung banyaknya cahaya yang diperlukan untuk menerangi zat sensitif cahaya.
Jadi, gambar lengkap dari Segitiga Fotografi bisa dilihat di bawah ini:
http://i170.photobucket.com/albums/u241/squigly_dp/segitigaphotography.jpg
Segitiga Fotografi bisa dianggap
sebagai konsep dasar di fotografi
Kesemua alat ini saling terhubung dan bergantung satu sama lain. Merubah setting di satu sudut di segitiga ini, akan merubah setting yang ada di sudut lain. Bila ada sebuah scene, light meter akan menghitung kombinasi yang tepat untuk film, shutter speed, dan aperture sehingga kita dapat mengambil gambar dengan pencahayaan yang tepat. Kalau kita tidak mengikuti kombinasi yang direkomendasikan oleh light meter, maka cahaya di foto kita akan terlihat tidak normal, entah itu lebih terang atau lebih gelap. Foto kita akan terlihat lebih terang karena terlalu banyak cahaya yang kita tangkap, atau lebih gelap karena terlalu sedikit cahaya yang kita tangkap. Saya tidak mengatakan bahwa foto yang terlalu terang atau gelap adalah foto yang jelek. Malah, ada beberapa foto yang sebenarnya lebih baik ditangkap dengan lebih terang atau lebih gelap. Akan tetapi secara umum, kita menganggap yang bagus adalah foto yang mempunyai cahaya yang seimbang.
Foto Terang
http://i170.photobucket.com/albums/u241/squigly_dp/gambarterang.jpg
Foto Gelap
http://i170.photobucket.com/albums/u241/squigly_dp/gambargelap.jpg
Kabar buruk bagi mereka yang tidak menyukai angka, dalam fotografi, kita amat menggantungkan kualitas foto kita kepada angka-angka. Dengan film, kita punya ASA atau ISO yang kita pakai sebagai pedoman tingkat kesensitifan film terhadap cahaya. Shutter speed dihitung dalam "1/x detik". Jadi angka "125" pada shutter speed artinya rana (shutter) akan membuka dan meneruskan cahaya selama "1/125 detik".
Sedangkan dalam aperture, kita memiliki " f/ ". Secara teknis, ada difinisi yang lebih baik tentang aperture ini. Sayangnya, bahkan saya pun tidak bisa mengingat itu hahahaha! Saya bisa menconteknya di buku-buku saya, sehingga saya bisa terlihat sebagai orang yang tahu segalanya. Atau anda dapat melakukannya sendiri dengan google atau wikipedia. Tapi saya mau menyederhanakan tulisan ini sehingga anda mudah membacanya, jadi hal yang perlu saya katakan tentang aperture adalah diameter dari 'lobang' yang meneruskan cahaya ke film. Sedangkan untuk angka-angka yang menunjukkan aperture, yaa.. anda perlu meneriman bahwa ada beberapa angka di fotografi yang pada akhirnya akan anda ingat.
Buat kalian para perempuan, mohon jangan marah atau bingung pada pasangan atau pacar anda kalau mereka tidak dapat mengingat-ingat tanggal atau angka sebaik anda, tapi dapat mengingat angka untuk kekuatan kuda mobil, panjang lensa, atau hasil sepak bola semalam. Kami-kami para lelaki memang tidak diciptakan untuk bisa mengingat angka-angka, kecuali apabila kita akan memakai angka tersebut dalam pembicaraan bersama teman-teman kami. Pastinya, kami para lelaki tidak membicarakan tanggal anniversary bersama teman-teman kami. Jadi, mohon jangan marah kalau kita memang jelek banget dalam mengingat angka dan tanggal (dan buat saya, nama hehehehe)
Kembali ke laptop, Segitiga Fotografi kita. Elemen-elemen dalam segitiga ini saling berhubungan. Seperti sudah saya katakan sebelumnya, merubah setting pada salah satu elemen dalam segitiga, untuk mendapatkan hasil yang sama, kita perlu merubah setting pada elemen yang lain dalam segitiga ini.
Sebagai contoh, untuk memotret sebuah scene landscape light meter kita mengatakan bahwa kita akan mendapatkan kombinasi ASA 400 - speed 1/125 - f/ 5.6. Lalu, kita merubah aperture dari f/ 5.6 menjadi f/ 8. Dengan melakukan itu, kita perlu merubah salah satu dari speed (menjadi 1/60 dtk), ATAU merubah ASA film (menjadi 800).
di bawah ini ada tabel yang menunjukkan kombinasi-kombinasi yang akan menghasilkan foto dengan cahaya seimbang yang sama.
Film (ASA/ISO) Shutter Speed (second) Aperture (f/)
400 1/125 5.6
400 1/60 8
400 1/30 11
800 1/125 8
1600 1/125 11
200 1/60 5.6
100 1/30 5.6
Note: berdasarkan tabel ngk bisa gw buat maka silakan liat keseragaman warna
Tabel kombinasi Film-Speed-Aperture yang akan
menghasilkan foto dengan cahaya seimbang yang sama
Segitiga Fotografi adalah segitiga yang akan kita pakai dalam semua foto yang kita ambil. Menurut saya, mengerti penggunaan segitiga fotografi adalah dasar dari pembelajaran fotografi. Oleh karena itu saya masih mengajarkannya. Saya akui, dengan perkembangan teknologi fotografi sekarang ini, proses ini telah menjadi lebih mudah dan cepat. Beberapa orang malah berpendapat bahwa pembelajaran segitiga fotografi sudah kuno dan kita tidak perlu memahaminya untuk membuat foto kita. Jangan salah, saya pun sekarang lebih banyak mengandalkan fitur "aperture priority" di kamera saya ketika saya motret. Saya sudah amat jarang memakai fitur "manual".
Akan tetapi, saya menggunakan "aperture priority" atau "speed priority" karena saya mengerti tentang dasar Segitiga Fotografi. Saya mengetahui kenapa saya memakai shutter speed 1/125, atau aperture f/ 8, atau setting ASA 1600. Penggunaan setting-setting ini karena keputusan sadar saya, karena saya ingin mendapatkan hasil yang sudah ada di kepala saya. Saya memakai kamera saya sebagai alat yang dapat membantu saya memotret dengan lebih cepat. Kamera hanyalah kuas saya, dan saya melukis dengan kuas tersebut
NB: untuk pic gw pake resolusi rendah itu hanya merupakan gambaran saja
Setelah kita mendapatkan 3 alat terpenting dalam fotografi, kita dapat meletakkan alat-alat ini dalam satu Segitiga Fotografi seperti yang dapat kita lihat di gambar di bawah. Untuk melengkapi segitiga kita, kita memerlukan sebuah alat lagi, Light Meter, yang akan kita pakai untuk membantu kita menghitung kombinasi film - shutter speed - aperture untuk bisa membuat "foto dengan cahaya seimbang" (well balanced light photo - selanjutnya saya akan pakai istilah well balance untuk menjelaskan foto yang memiliki cahaya yang cukup). Alat ini akan "menghubungkan" ketiga alat lainnya yang telah kita bicarakan sebelumnya. Light meter adalah sebuah alat yang kita pakai untuk menghitung banyaknya cahaya yang diperlukan untuk menerangi zat sensitif cahaya.
Jadi, gambar lengkap dari Segitiga Fotografi bisa dilihat di bawah ini:
http://i170.photobucket.com/albums/u241/squigly_dp/segitigaphotography.jpg
Segitiga Fotografi bisa dianggap
sebagai konsep dasar di fotografi
Kesemua alat ini saling terhubung dan bergantung satu sama lain. Merubah setting di satu sudut di segitiga ini, akan merubah setting yang ada di sudut lain. Bila ada sebuah scene, light meter akan menghitung kombinasi yang tepat untuk film, shutter speed, dan aperture sehingga kita dapat mengambil gambar dengan pencahayaan yang tepat. Kalau kita tidak mengikuti kombinasi yang direkomendasikan oleh light meter, maka cahaya di foto kita akan terlihat tidak normal, entah itu lebih terang atau lebih gelap. Foto kita akan terlihat lebih terang karena terlalu banyak cahaya yang kita tangkap, atau lebih gelap karena terlalu sedikit cahaya yang kita tangkap. Saya tidak mengatakan bahwa foto yang terlalu terang atau gelap adalah foto yang jelek. Malah, ada beberapa foto yang sebenarnya lebih baik ditangkap dengan lebih terang atau lebih gelap. Akan tetapi secara umum, kita menganggap yang bagus adalah foto yang mempunyai cahaya yang seimbang.
Foto Terang
http://i170.photobucket.com/albums/u241/squigly_dp/gambarterang.jpg
Foto Gelap
http://i170.photobucket.com/albums/u241/squigly_dp/gambargelap.jpg
Kabar buruk bagi mereka yang tidak menyukai angka, dalam fotografi, kita amat menggantungkan kualitas foto kita kepada angka-angka. Dengan film, kita punya ASA atau ISO yang kita pakai sebagai pedoman tingkat kesensitifan film terhadap cahaya. Shutter speed dihitung dalam "1/x detik". Jadi angka "125" pada shutter speed artinya rana (shutter) akan membuka dan meneruskan cahaya selama "1/125 detik".
Sedangkan dalam aperture, kita memiliki " f/ ". Secara teknis, ada difinisi yang lebih baik tentang aperture ini. Sayangnya, bahkan saya pun tidak bisa mengingat itu hahahaha! Saya bisa menconteknya di buku-buku saya, sehingga saya bisa terlihat sebagai orang yang tahu segalanya. Atau anda dapat melakukannya sendiri dengan google atau wikipedia. Tapi saya mau menyederhanakan tulisan ini sehingga anda mudah membacanya, jadi hal yang perlu saya katakan tentang aperture adalah diameter dari 'lobang' yang meneruskan cahaya ke film. Sedangkan untuk angka-angka yang menunjukkan aperture, yaa.. anda perlu meneriman bahwa ada beberapa angka di fotografi yang pada akhirnya akan anda ingat.
Buat kalian para perempuan, mohon jangan marah atau bingung pada pasangan atau pacar anda kalau mereka tidak dapat mengingat-ingat tanggal atau angka sebaik anda, tapi dapat mengingat angka untuk kekuatan kuda mobil, panjang lensa, atau hasil sepak bola semalam. Kami-kami para lelaki memang tidak diciptakan untuk bisa mengingat angka-angka, kecuali apabila kita akan memakai angka tersebut dalam pembicaraan bersama teman-teman kami. Pastinya, kami para lelaki tidak membicarakan tanggal anniversary bersama teman-teman kami. Jadi, mohon jangan marah kalau kita memang jelek banget dalam mengingat angka dan tanggal (dan buat saya, nama hehehehe)
Kembali ke laptop, Segitiga Fotografi kita. Elemen-elemen dalam segitiga ini saling berhubungan. Seperti sudah saya katakan sebelumnya, merubah setting pada salah satu elemen dalam segitiga, untuk mendapatkan hasil yang sama, kita perlu merubah setting pada elemen yang lain dalam segitiga ini.
Sebagai contoh, untuk memotret sebuah scene landscape light meter kita mengatakan bahwa kita akan mendapatkan kombinasi ASA 400 - speed 1/125 - f/ 5.6. Lalu, kita merubah aperture dari f/ 5.6 menjadi f/ 8. Dengan melakukan itu, kita perlu merubah salah satu dari speed (menjadi 1/60 dtk), ATAU merubah ASA film (menjadi 800).
di bawah ini ada tabel yang menunjukkan kombinasi-kombinasi yang akan menghasilkan foto dengan cahaya seimbang yang sama.
Film (ASA/ISO) Shutter Speed (second) Aperture (f/)
400 1/125 5.6
400 1/60 8
400 1/30 11
800 1/125 8
1600 1/125 11
200 1/60 5.6
100 1/30 5.6
Note: berdasarkan tabel ngk bisa gw buat maka silakan liat keseragaman warna
Tabel kombinasi Film-Speed-Aperture yang akan
menghasilkan foto dengan cahaya seimbang yang sama
Segitiga Fotografi adalah segitiga yang akan kita pakai dalam semua foto yang kita ambil. Menurut saya, mengerti penggunaan segitiga fotografi adalah dasar dari pembelajaran fotografi. Oleh karena itu saya masih mengajarkannya. Saya akui, dengan perkembangan teknologi fotografi sekarang ini, proses ini telah menjadi lebih mudah dan cepat. Beberapa orang malah berpendapat bahwa pembelajaran segitiga fotografi sudah kuno dan kita tidak perlu memahaminya untuk membuat foto kita. Jangan salah, saya pun sekarang lebih banyak mengandalkan fitur "aperture priority" di kamera saya ketika saya motret. Saya sudah amat jarang memakai fitur "manual".
Akan tetapi, saya menggunakan "aperture priority" atau "speed priority" karena saya mengerti tentang dasar Segitiga Fotografi. Saya mengetahui kenapa saya memakai shutter speed 1/125, atau aperture f/ 8, atau setting ASA 1600. Penggunaan setting-setting ini karena keputusan sadar saya, karena saya ingin mendapatkan hasil yang sudah ada di kepala saya. Saya memakai kamera saya sebagai alat yang dapat membantu saya memotret dengan lebih cepat. Kamera hanyalah kuas saya, dan saya melukis dengan kuas tersebut
NB: untuk pic gw pake resolusi rendah itu hanya merupakan gambaran saja